Tampilkan postingan dengan label bening. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bening. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Desember 2010

(May be the last) Ibadah (ku) di Manuran

Sangat menyenangkan bisa melayani. Senang bisa membuat orang yang kita layani tersenyum senang. Rasanya bahagia sekali. Sebegitu bahagianya bila melayani sesama manusia, lalu bagaimana bila mendapat kesempatan untuk melayani TUHAN ALLAH, Pencipta alam semesta beserta seluruh isinya, termasuk kita-kita ini (manusia)?Bisa dibayangkan yaaa...

Tanggal 28 Nopember 2010, aku kembali mendapat kesempatan yang luar biasa melayani ibadah Minggu di Gereja tercinta kami, di Manuran. Persiapan yang dilakukan selama seminggu bersama rekan-rekan pelayanan sungguh membekas di hati. Ini kala pertama aku melayani lagi setelah Gedung Gereja Manuran direnovasi. Sebelumnya kami sempat ibadah berpindah tempat ke Kantin Manuran, karena Gereja sedang dibongkar habis-habisan. Tapi meski tidak beribadah di Gereja, semangat anak-anak Tuhan yang rindu datang memuji menyembah Tuhan bersama saudara seiman tidak berkurang, malah semakin semangat. Seperti yang sudah aku tulis, semangat anak-anak Tuhan di Manuran sungguh-sungguh dibakar sejak awal tahun 2010. Banyak anak Tuhan yang dulunya tidak ke Gereja, sekarang mulai rajin ke Gereja. Bahkan sekarang banyak yang rindu untuk melayani di Gereja, dengan memberi persembahan puji-pujian. Thanks God.

Seminggu yang ada kami pakai untuk sungguh-sungguh berlatih. Sejarah ibadah di Manuran, belum pernah kantoria (beberapa orang yang memimpin pujian di depan). Ada beberapa alasan aku menggait beberapa anak Tuhan untuk bersama melayani sebagai kantoria, antara lain mengajar mereka untuk melayani di Gereja, mengajar mereka untuk berani tampil, mengajar mereka dan jemaat bernyanyi dengan benar (percaya gak percaya semua lagu, meski sebenarnya itu lagu dengan tempo cepat, tetap aja dinyanyikan begitu lambat oleh jemaat, huuff...) dan ingin berbagi dengan mereka. Malam-malam latihan yang kami lalui tidak hanya berisi latihan semata, tapi kami juga sharing tentang Firman Tuhan. Bahkan ada juga loh yang curhat kalau di kerjaan dia selalu ditanya-tanya mengenai iman percayanya, dengan berbekal pengetahuan pas-pasan dia menjawab, tapi lewat sharing malam-malam itu kami tuntaskan semua. Bahkan timbul ide awal tahun depan kita mau PA. wow!!! Tuhan berkati dan buka jalan buat kami (mohon dukungan doa dari semua teman-teman yaaa...)

Selain mereka bertugas sebagai kantoria, mereka juga memainkan sebuah fragment di akhir khotbah. Sungguh menyentuh, hingga beberapa orang jemaat ada yang menitikkan airmata dan sebagian lainnya menundukkan kepala (entah apa yang ada di pikiran mereka, tapi Tuhan tau!). Para pelaku fragment pun tidak terlewat dari lawatan Tuhan, beberapa terharu dan menitikkan airmata (bisa dibayangkan fisik mereka yang besar dan kekar, berkulit hitam, wajah sangar, suara keras dan kadang agak kasar; menitikkan airmata??? luar biasa Tuhan!) 

Dalam sejarah perjalanan ibadah Gereja Manuran, tercatat bahwa malam itulah ibadah Minggu yang paling lama (2 jam, biasanya malah ada yang cuma 30 menit) dan jemaat terbanyak (89 jemaat), sampai pelayan harus menggotong-gotong bangku dari Kantin. Dan ups, print-an lagu-lagu untuk ibadah kurang. Aku hanya nge-print sebanyak 40 lembar (karena biasanya paling banyak itu 30-an orang). Tapi Puji Tuhan, itu tidak menjadi penghalang untuk jemaat memuji Tuhan dengan semangat. Awal ibadah dibuka dengan pujian baru (sebenarnya itu lagu lama, tapi baru pernah didengar disini), judulnya "Allah itu baik", kemudian dilanjutkan dengan lagu "Dari terbit matahari" dan "Hari ini Harinya Tuhan" (in Indonesia dan in Toraja language, hehehe). Awalnya banyak yang segan dan agak kaku untuk bertepuk tangan dan menggoyangkan tubuh, tapi di lagu kedua, 80% mereka menggoyangkan tubuh (meski agak malu-malu) dan bertepuk tangan. Praise the Lord. 

Tak hanya vocal group dari karyawan/karyawati yang mengisi ibadah malam hari itu, tapi dari masyarakat Rauki pun tidak mau ketinggalan memuji Tuhan. Tidak main-main, mereka benar-benar mempersiapkannya dengan perfect! Dan (itulah Tuhan, selalu bekerja dalam segala hal), tema lagu-lagu yang dipersembahkan pas dengan waktu mereka tampil dan tema khotbah (padahal kita tidak saling tahu loh!). Semua bersukacita, meski kita pulang agak malam (jam 9 malam lewat dikiiiiittt).

Saudara-saudaraku di Manuran dan yang dulu pernah ada di Manuran, teruslah berkarya dalam Tuhan dimana pun kita berada. Ada banyak hal yang Tuhan rindu kita lakukan sebelum Tuhan memanggil kita kembali ke surga, salah satunya adalah MELAYANI Allah dan sesama. Tanpa memandang latar belakang, suku, bangsa, bahasa, warna kulit, pendidikan, peradaban, dan banyak lagi, khususnya di tempat-tempat yang tidak terjamah oleh peradaban. Keselamatan dan kabar sukacita bukan hanya milik orang-orang di kota, bukan hanya milik Gereja yang megah dan jemaat kaya, bukan hanya di tempat-tempat tertentu saja, tapi juga milik saudara-saudara kita yang jauh di pedalaman dan tempat-tempat terpencil, bahkan seperti Manuran ini; yang tidak pernah ada di peta. Lihatlah, begitu banyak anak Tuhan yang haus akan kasih sejati, haus akan kebenaran dan teladan hidup. MAUKAH KITA MELAYANI MEREKA?. Saya minta maaf apabila selama 1 tahun di tahun 2009 melupakan hal ini, tapi Tuhan mengingatkanku lewat peristiwa-peristiwa yang menyedihkan dalam hidupku. Memang Tuhan punya caranya sendiri untuk menegur dan menghajar anak-anaknya yang lari dari rencana-Nya. 

Aku tidak tahu apakah ini pelayanan terakhirku di Manuran atau tidak. Keinginanku dalam waktu dekat akan meninggalkan pulau yang kurang lebih 3 tahun ini aku diami, tapi biarlah rencana Tuhan saja yang terjadi. Kalaupun aku pergi, aku sudah melihat ada orang-orang yang akan dipakai Tuhan untuk menjadi teladan dan pelayannya, bahkan mungkin saja yang tidak pernah kita sangka-sangka akan dipakai Tuhan luar biasa. 
Teman-teman, meski kalian sudah tidak ada lagi di Manuran, tapi bagaimanapun kalian pernah ada di Manuran dan pernah merasakan bagaimana pergumulan pulau ini. Mohon dukungan doanya agar saudara-saudara kita terus bertumbuh di dalam iman percaya mereka kepada Tuhan Yesus Kristus. Sehingga saudara-saudara kita di Manuran ini selalu mempersembahkan hidup mereka yang suci, kudus dan berkenan kepada Allah, tidak hanya itu saja, tetapi mereka tidak mengikuti cara hidup dunia tetapi berubah menurut pembaharuan budi mereka; seperti tertulis dalam Roma 12:1-2 yang menjadi bahan renungan yang aku bawakan di Minggu malam tanggal 28 Nopember 2010. Tuhan memberkati kita semua. Amen.

Para Kantoria --> improvisasi mode on :)

Jemaat di sayap kanan gereja

Jemaat sayap kiri gereja

Pujian dari PAM (lagu bahasa Biak) Thema lagunya mengajak untuk memuji Tuhan

VG. Agape (isinya cewek-cewek uey) judul lagu: Kami Butuh Jamahan Tuhan

VG. BAPA BERMAZMUR (BAPA singkatan dari Batak-Papua),thema lagunya pengharapan

Solo Eden Voice 1, Thema lagunya anak manusia yang hidup dalam kekeringan merindukan kasih dan pengampunan Tuhan Yesus

Fragment, tentang dosa yang merusak dan membuat jurang pemisah antara Allah (paling kiri) dan manusia (paling kanan). Kertas yang dipegang pemain adalah tulisan jenis-jenis dosa, aku mengambil yang sering terjadi di sini (berbohong, mencuri, mabuk judi, menyakiti hati orang lain, berkelahi, nonton film porno dan berzinah)

Solo Eden Voice 2, pujian yang sungguh menyentuh sampai-sampai yang nyanyi dan beberapa jemaat menitikkan airmata. Pujiannya menceritakan tentang fragment yang dibawakan sebelumnya. Ini posisi penyanyi berlutut dan berdoa mengakui segala dosa dan memohon pengampunan dari Allah

VG SADATU (singkatan dari Satu Dalam Tuhan), menaikkan pujian dalam bahasa Biak yang intinya bersyukur

VG Mess 8, bernyanyi dengan musik dari CD. Pujiannya bercerita tentang pengampunan

Jumat, 03 Desember 2010

Tiga Tahunku hampir Tamat

Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku menapakkan kaki di "Tanah Hitam" (begitu sebutan orang-orang untuk Tanah Papua) ini. Sekarang sudah hampir tiga tahun berlalu sejak moment mendebarkan sekaligus "menakutkan" itu. Mengapa aku bilang takut? Karena sebelum aku ke tanah ini, aku membaca buku sejarah Tanah ini yang sangat sukses membuat bulu kudukku berdiri dan hatiku bergetaarrrr.

Dari sekian banyak pulau yang ada di Tanah ini, ada satu pulau dimana Tuhan sudah menempatkan aku, Pulau Manuran; tetapi beberapa orang menyebutnya "Manurang" atau "Manuram" entah mana yang benar, untuk mengklarifikasinya pun sulit, karena nama pulau ini tak tertera di peta (it's okay!). 

Banyak suka dan duka yang aku alami selama disini. Setidaknya yang paling berbekas begitu dalam di ingatanku adalah sepanjang tahun 2009. Kehidupan fisik dan rohaniku betul-betul menjadi pertanyaanku yang paling utama, sepanjang hidupku. Kalau boleh aku menggarisbawahi, inilah waktu terpanjang "masa kelam" kehidupanku. Aku banyak dihadapkan dengan masalah "berat" dalam hidup seputar perut! dan otak! Perlahan tapi pasti kemunduran aku alami. Tidak ada gairah! No passion! Semua datar dan BIG nothing! Banyak pelayanan yang aku tolak, tentunya dengan halus. Aku merasa tidak pantas dan tidak layak untuk berbagi dengan siapa pun. Dan di saat bersamaan pun, orang yang aku kasihi dalam iman mulai menjauh tanpa aku pahami apa masalahnya. Aku sangat mengasihinya, aku berharap dia dan aku bergandengan tangan dalam menghadapi "tumpukan" pergumulan di depan mata kami. Tapi ternyata ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya (sampai sekarang pun aku tidak tahu, apa itu?!), sehingga dia memilih dan memutuskan pergi meninggalkanku, meninggalkan Tanah Hitam ini. Tapi aku tetap mengasihinya sampai kapan pun (semoga kamu mengerti apa yang aku rasakan, dulu dan sekarang).

Besar kerinduanku berbagi dengan saudara-saudaraku disini, begitu aku melihat dan hidup bersama dengan mereka. Awal tahun 2010 semangatku mulai bangkit. Tidak bisa dipungkiri bahwa berpulangnya calon ayah mertuaku di akhir 2009 (waktu itu aku masih belum menikah) kembali menyadarkanku bahwa masih banyak hal yang harus aku lakukan di dunia ini sebelum aku pun kembali kepada BAPA. Ayah mertuaku adalah seorang pelayan Tuhan yang setia. Seluruh kehidupannya dipakai untuk melayani jemaat Allah, dan tidak pernah sekalipun dilewatkan doa malam untuk istri dan anak-anaknya. Ayah mertuaku adalah pria tangguh yang dipakai Tuhan luar biasa. Aku bangga bisa menjadi menantunya. Terakhir aku memakaikan sepatu di kakinya yang sudah terbujur kaku, kaki itulah yang membawanya melayani bahkan sampai berkilo-kilo meter di usianya yang sudah tidak muda lagi dan kaki yang tidak bisa berjalan berdiri lebih dari 5 menit, sungguh luar biasa! Tidak ada yang bisa menghalangi perjalanan pelanyanannya, sakit penyakitpun tidak sama sekali! Sungguh luar biasa. Seperti mendapat transfer spirit yang kuat dalam hatiku untuk terus melayani, meski apapun yang aku alami. Memang benar Firman Tuhan, JAUH LEBIH BERMAKNA PERGI KE ACARA PEMAKAMAN DIBANDINGKAN KE ACARA PESTA. Dan aku menemukan makna yang sangat berharga itu. Tuhan mengingatkan hal yang paling penting dan sudah mulai hilang dalam hidupku.

Kembali ke Tanah Hitam ini. Serasa mendapat suntikan energi aku kembali ke Pulau Manuran di awal 2010 dan memulai hal kecil bersama beberapa saudara seiman. Meski tidak terlalu intens, tetapi kami selalu sharing kapan pun dan dimana pun kami bertemu. Mereka adalah orang-orang yang haus akan kebenaran Firman Tuhan. Pernah kami hanya berniat untuk latihan fragment di gereja, tetapi jadi juga kami sharing sampai lewat jam 10 malam di gereja. Begitu haus dan komitmen yang kuat untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi, itu yang jelas terlihat dalam setiap kata dan perbuatan mereka. Adakah yang lebih menyenangkan hati pelayan Tuhan selain melihat orang yang dilayaninya memiliki kerinduan yang luar biasa dalam mengenal Allah-nya? mungkin kita sepakat mengatakan "tidak ada". Kerinduan Bapa adalah agar hati anak-anak-Nya kembali kepada-Nya. 

Di kesempatan yang lain, salah seorang dari mereka tak mampu menahan tangis nya (ini jelas bukan acting semata) ketika dia menyanyikan lagu yang bercerita tentang anak manusia yang berdosa, tetapi akhirnya menyadari dan kembali kepada ALLAH. Aku tau orang itu, dan aku tau arti air mata itu. Aku tau apa yang dialaminya. Aku tau apa yang ada di dalam hatinya. Dan aku pun kembali diingatkan betapa banyak manusia berdosa yang sangat rindu merasakan kasih Allah yang sejati. Keesokan harinya orang itu mendatangi aku mengatakan permohonan maaf dan penyesalannya karena sudah menangis ketika menyanyi, karena waktu itu aku yang memimpin ibadah. Dia mengira sudah merusak ibadah karena dia tidak bisa membendung aliran kasih Allah dalam hidupnya yang membuat dia terharu. Oww, tidak... aku katakan, "Tidak perlu minta maaf. Allah tau apa yang ada dalam hatimu. Dan banyak orang diberkati malam itu". Lalu dia diam kembali. Perlu diketahui saja, aku sampai-sampai tidak pernah hafal dengan suaranya, karena dia pria yang jarang sekali berbicara, dan kalau bericara pelaaaannn sekali, bahkan aku perlu beberapa kali meminta dia mengulangi kata-katanya, hahaha... 

Di lain kesempatan lagi ada seorang dari mereka, seorang bapak yang usianya tidak bisa dibilang muda lagi, aku menaksir usianya kira-kira 40-an. Aku memberinya peran menjadi ALLAH BAPA dalam suatu drama untuk ibadah. Awal latihan, ketika pertama kali kami latihan, air matanya menitik karena dia betul-betul menghayati. Drama tersebut bercerita tentang anak manusia yang awalnya dekat dengan Allah, tapi karena nafsu dunia akhirnya dia jatuh dalam berbagai-bagai dosa dan membuatnya jauh dari Allah. Tapi kemudian dia merindukan kasih Allah Bapa, yang membuatnya membuang semua dosa-dosa nya dan kembali kepada Bapa. Tapi setelah latihan selesai dan kami pulang ke tempat masing-masing, ternyata bapak ini tidak bisa tidur. Dia gelisah. Pikirannya terus menuduh dirinya sebagai manusia berdosa yang tidak pantas memerankan tokoh ALLAH BAPA yang begitu kudus. Dia menangis dan berdoa seorang diri di dalam kamarnya. Keesokan siangnya dia mendatangiku dengan wajah yang penuh beban (padahal biasanya bapak ini adalah orangtua yang berjiwa muda, selalu ceria dan bersemangat). Dia menceritakan semua yang dialaminya sepanjang malam dan dia berniat menolak peran itu. Aku menjelaskan bahwa itu pikiran dunia yang hanya ingin menuduh dan menjatuhkannya. Memang betul kita tidak akan pernah bisa disamakan dengan Allah Bapa, tapi jadikanlah pengalaman berperan sebagai Allah ini sebagai semangat dan alarm agar dirinya membenci dosa, sama seperti Allah membenci dosa. Bukan perkara yang mudah bagi dia, tapi akhirnya (setelah 2 hari dia menggumulkannya) dia menyatakan bersedia memerankan Allah Bapa. Lagi-lagi dia begitu terharu ketika merasakan kasih Allah Bapa yang begitu besar dalam hidupnya. Tuhan Yesus memberkatimu bapak!

Ada banyak cerita yang terjadi di pulau ini, khususnya selama sepanjang tahun 2010. Sampai saat ini aku masih belum bisa memutuskan akankah aku pergi dari sini atau tidak. Rencana kepergianku semakin matang, tapi justru disaat yang bersamaan pula hatiku terus bergolak dan ingin berada disini, setidaknya sedikit lebih lama dari rencana kepergianku. Tapi (lagi) ada banyak alasan yang membuat aku harus pergi dari sini. Cukup sudah waktuku disini, ini kataku, entah apa kata Tuhan.

Sekarang sudah beberapa hari lagi menuju tahun 2011, dan aku masih belum bisa memutuskan. Tuhan berilah aku ketenangan dan kebijaksanaan ketika memutuskan. Dan terlebih berilah pertumbuhan iman yang luar biasa untuk anak-anak Tuhan di Tanah Hitam ini, khususnya di Pulau Manuran , sehingga kemuliaan Tuhan terpancar dari pulau kecil ini sampai ke seluruh dunia, dan sorak-sorai Malaikat boleh lagi terdengar untuk setiap pertobatan setiap orang di Pulau ini.

Amen!

I pray in the name of Jesus. Amen!


Rabu, 27 Oktober 2010

Mengenang Bencana Negeri Ini -- 27 Oktober 2010 --

Menggantung gumpalan awan hitam pekat di langit pertiwiku, 
gemuruh ledak tangis angkasa menggabungkan ribuan, jutaan, bahkan ratusan juta jiwa yang sedang meradang perih
Tuhan... begitu banyak cobaan yang harus dihadapi bangsa ini
begitu banyak saudaraku yang harus melepas raga dari roh
begitu banyak tetes air mata dan peluh yang jatuh ke tanah bencana negeri ini
bencana dan kejadian memilukan menghantam tubuh negeriku
belum lagi hilang trauma korban bencana tsunami Aceh 6 tahun silam, sudah datang lagi tsunami Mentawai yang berhasil merampas jiwa 112 orang dan 502 orang lainnya hilang tanpa kabar berita
belum lagi selesai aku melepas kepedihan melihat saudara-saudaraku yang menjadi korban gempa yogya 4 tahun silam, sekarang sudah bertambah pedihnya melihat wedhus gembel dan debu vulkanik yang merenggut hidup penduduk lereng Merapi
dan... ooohhh, Guru Kunci Merapi itu... Mbah Maridjan, begitu beliau biasa disapa, turut menjadi tumbal bencana alam ini
belum lagi banjir di Jakarta,
di Wasior... 
dan gejolak politik yang seolah tak ada hentinya
saling tuding, saling menjatuhkan diantara penguasa negeri ini
juga arus protes dan tindak anarkis bak penghuni hutan seolah tak mau ketinggalan meramaikan penderitaan negeri dan bangsa ini
Tuhan...
apa arti semua ini?
adakah ini peringatan atau bahkan sudah menjadi hukuman atas kami?
jauh kulayangkan ingatanku mengenang kondisi bangsaku belakangan ini... menyedihkan sekali
dalam hati kuhakimi para pemimpin bangsa yang tidak becus mengurus negeri ini,
kukutuki para pelaku pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, teroris, kawin cerai dan semua pelaku kejahatan lainnya
aku menuding mereka biang kerok dan alasan mengapa bencana ini terjadi
yaaa... INI SEMUA KARENA MEREKA!!!
INI SEMUA SALAH MEREKA... MEREKA YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS BENCANA NEGERI INI
ingin rasanya kutemui mereka satu per satu dan kumaki
ingin rasanya aku menjadi wakil kesedihan, amarah, dendam dan kebencian negeri ini lalu kumuntahkan di wajah mereka 
ingin rasanya aku mencabik perasaan mereka supaya mereka juga merasakan bagaimana rasanya hati yang pedih ketika melihat orang yang kita sayangi; ayah, ibu, kakak, adik, suami, istri, kakek, nenek, menjadi korban... 
biar mereka rasa! biar mereka mengalami hal yang sama! biar mereka rasakan sakit yang sama

begitu emosi, begitu bernafsu, begitu dendamnya hati ini sehingga aku melupakan sepenggal kata yang selalu kuucapkan dalam doa, "Tuhan, ampunilah aku, sama seperti aku juga mengampuni orang yang bersalah kepadaku!"
ooohhh... hatiku bergetar, bulu kudukku merinding menyadari doa itu sudah beratus-ratus kali kuucapkan selama hidupku, tapi mengapa hatiku begitu jahat tak mau mengampuni para penjahat itu
seketika tulang-tulangku lenyap dan tubuhku lemas...
aku terjatuh di atas kedua lututku dan kuangkat kedua tanganku memohon ampun kepada-Mu, ya Tuhan, serasa kuucap kata, "Ampunilah dosa bangsa ini, ya Tuhan... ampunilah kami yang selalu menyimpan iri dengki dendam terhadap sesama, ampunilah keegoisan kami memperlakukan hidup ini selayaknya milik kami sendiri tanpa memikirkan perasaan-Mu... ampunilah kami, ya Tuhan, Sang Pencipta dan Pemilik Hidup... ampunilah kami..."
serak suara ini menahan haru bercampur sedih dan bahagi; sedih karena sadarku mengingatkan kalau aku salah satu dari penjahat itu dengan membenci dan menyimpan dendam dan bahagia akhirnya aku diingatkan untuk mengampuni dan minta ampun untuk bangsaku tercinta, negeriku Indonesia...

dengan kepala tertunduk dan hati terangkat kepada-Mu, ya Tuhan, aku memohon hiburlah hati saudara-saudaraku yang saat ini terkena bencana, berilah yang terbaik dalam kehidupan mereka dan pulihkanlah bangsaku, Indonesia...
aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan...
amin...


Banjir Wasior
Tsunami Mentawai

Merapi Meletus
Demo dimana-mana
Polisi beradu dengan massa demo

Arogansi demo


Selasa, 26 Oktober 2010

siapa yang mengertiku?

Entah sudah berapa tahun aku sudah tidak lagi mengungkapkan perasaan galau atau senangku pada seseorang atau sesuatu
Bibirku kelu... lidahku kaku... jiwaku biru...
mungkin karena sudah tak biasa
atau karena enggan?
atau karena... aaahhh, aku malas membahasnya

sebenarnya aku ingin berbagi...
tapi kepada siapa?
dunia ini luas, manusia pun banyak, tapi tak satu pun kutemui orang yang tepat untuk mencurahkan apa yang aku rasa
tidak seorang pun...

sudah tulisan takdir ataukah karena keras kepalaku yang buat aku merasa sendiri di tengah hiruk pikuk dunia... aku tak punya jawabannya
yang jelas, semua kujalani dengan senyum dan tawa juga tangis tertahan yang begitu terasa sesak di dadaku
kemana harus kutumpahkan semua yang menumpuk di kepalaku
kemana kuadukan perihal hidupku
kemana kuceritakan betapa bahagia aku saat itu
kemana?
tak lama kudengar ada suara yang berkata, "kemari... Aku siap menampung semua yang kamu alami. Aku siap tanpa pamrih apalagi tarif. Aku sudah siap sejak dulu, tapi kamu selalu enggan"
huuufff... suara itu lagi... sudah tidak asing aku mendengarnya
kuangkat tanganku tinggi-tinggi, "Okelah... aku menyerah... aku menyerah... aku menyerah..." dan aku berlari ke arah suara itu
tak ada sosok... hanya rasa...
tak kasat mata... tapi nyata...
hangat kurasa pelukan suara tak berwujud
menjalar cepat sampai ke tulang sumsum... mengikat seluruh perasaanku...
menangis!!! meraung!!! kutumpahkan semua yang kurasa selama ini
suka, duka, senang, susah, tawa, tangis, cerita cinta cita-cita dan harapanku... semuanya! semua mencair dalam tangis dan raungku
aku sudah tak perduli dengan rasa malu dan harga diri, yang ada hanya luapan emosi yang terbendung sekian lama... tak terkendali

Tuhan...
betapa bodohnya aku mencari makhluk yang mengerti aku
betapa piciknya aku tak mengiraukan kehadiranmu di sampingku
betapa sombongnya aku karena kupikir aku adalah wanita tangguh
Tuhan... aku perlu Engkau...
Tuhan... aku haus akan Engkau...
seperti rusa yang rindu air, begitu juga jiwaku rindu Engkau
Engkaulah Tuhan hasrat hatiku... aku rindu Engkau...
Rindu Engkau... seperti penjaga malam yang tidak sabar menunggu datangnya pagi hari
sangat rindu....
Engkaulah tempat perlindungan dan benteng kekuatanku
Engkaulah gunung batu dan kota bentengku
Engkaulah suluh jalanku dan penjaga hatiku
Engkau lah yang menciptakan dunia dan seluruh isinya, juga aku
sudah pasti Engkau mengerti isi hatiku
yaaahhh... aku terlalu jauh dariMu sehingga tak lagi kupahami hatiMu
tapi... sekarang aku tau kepada siapa aku harus mengadu dan berbagi
sekarang aku tau siapa yang memahami dan mengerti kedalaman hatiku
Engkau Tuhan...

Tidak ada satu makhluk pun di dunia ini yang sangat mengerti aku, tidak juga diriku, hanya Tuhan saja...
dan sekarang hidupku berjalan bersama Tuhan
setiap saat, setiap kesempatan, setiap cerita, setiap asa semua berujung padaMu, Tuhanku...